Di Balik Gemericik Air, Mengalir Misteri Dana Meter di PDAM: Simfoni Duka di Kota Padang Tercinta
PADANG - 5 MARET 2025 – Gemericik air yang seharusnya mengalunkan melodi kehidupan, kini berubah menjadi simfoni duka. Di balik keran-keran yang mengalirkan asa, tersembunyi misteri yang menggelayuti Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang.
"Dana meter" yang tertera dalam struk pembayaran air, yang seharusnya menjadi pilar kepercayaan, kini menjelma menjadi tanda tanya besar. Seperti tetesan air yang jatuh ke bebatuan, desas-desus tentang praktik-praktik tak terpuji mulai mengalir, meracuni beningnya air yang seharusnya memberikan kehidupan.
Masyarakat, yang haus akan keadilan, mulai menyuarakan jeritan hati mereka. Namun, ketakutan membungkam keberanian, bagai kerikil yang menghambat aliran sungai. "Mau tidak mau, kami ikut saja. Takut kalau protes, malah jadi masalah," bisik seorang pelanggan, suaranya tercekat oleh ketidakpastian.
Di tengah gurun keresahan, hadir suara-suara yang mempertanyakan logika "dana meter" yang meresahkan, mencari kejelasan di balik kabut ketidakpastian. "Untuk apa dana ini? Ke mana aliran dananya?" tanya mereka, suara-suara itu menggema di antara dinding-dinding kebingungan.
Dari balik pintu yang tertutup rapat, penjelasan datang, namun tak sepenuhnya memuaskan dahaga masyarakat. Mereka merindukan transparansi, bagai tanah kering yang merindukan hujan. Kasus serupa pernah mencuat di daerah lain, bagai petir yang menyambar di siang bolong. Apakah Kota Padang akan mengikuti jejak kelam itu?
Masyarakat kini menanti, bagai anak kecil yang menanti dongeng pengantar tidur. Mereka berharap, para pemimpin kota akan menjadi pahlawan, mengungkap tabir misteri dan mengembalikan kesucian air yang mengalir.
Di tengah gemericik air yang terus mengalir, masyarakat berharap misteri ini segera terungkap, dan keadilan akan mengalir deras, sebersih air yang mereka minum.
Penulis: Andarizal, KJI